Penghafal Al-Qur'an adalah orang-orang yang istimewa dan mulia. Mereka orang-orang pilihan yang diberikan ma’unah oleh Allah S.W.T dalam menghafalnya. Sebagaimana Janji Allah "Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran,
dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya" (Q.S Al-Hijr : 9)
...
Proses berikutnya yang lebih penting adalah menjaga hafalan. Ada banyak yang meremehkan muraja'ah atau mengulang-ulang hafalan yang telah didapat. Kebanyakan penghafal Al-Qur'an tidak lagi muraja’ah hafalan karena
merasa bahwa diri sudah hafal. Padahal, hal ini adalah kesalahan besar. Ketika berhenti untuk muraja'ah, maka secara tidak langsung disitulah kita berniat untuk menghilangkan hafalan tersebut.
Ada kisah menarik
yang pernah dialami oleh Imam Ibnu Abi Hatim, seorang ahli hadits yang terkenal dengan sangat kuat hafalannya. Suatu ketika di sebuah rumah, beliau menghafal sebuah buku dengan diulang berkali-kali. Kebetulan di dalam
rumah itu tinggal seorang nenek tua.
Disebabkan seringnya mengulang-ngulang hafalannya, nenek tersebut mendengarnya, kemudian ia memanggil Imam Ibnu Abi Hatim dan bertanya padanya:
"Wahai anak, apa
yang sedang engkau kerjakan?". "Saya sedang menghafal sebuah buku", jawab Ibnu Abi Hatim. Nenek tersebut berkata: "Tidak usah seperti itu, saya sudah hafal buku tersebut hanya karena mendengar hafalanmu". "Kalau begitu,
saya ingin mendengar hafalanmu", timpal Ibnu Abi Hatim. Lalu, nenek tersebut membaca buku yang sudah dihafalnya.
Setahun setelah peristiwa tersebut, Ibnu Abi Hatim ingin mengetahui apakah nenek tersebut masih
ingat dengan hafalannya. Ia kembali lagi ke rumah tersebut dan memohon agar sang nenek mengulangi hafalannya setahun lalu.
Ternyata nenek tersebut sudah tidak hafal sama sekali isi buku yang telah ia hafal
setahun lalu. Namun, tidak dengan Imam Abi Hatim. Tak ada satupun ia lupa dari hafalannya.
Pelajaran dari kisah tersebut, menegaskan kepada kita tentang betapa pentingnya muraja'ah hafalan yang telah dihafal.
Diumpamakan ketika kita sudah menangkap seekor kancil di hutan, maka segeralah ikat kancil tersebut dengan tali (muraja'ah tadi) agar tidak kembali lepas. Pesan Indah dari RasulullahShallallahu ‘alaihi wa Sallam:
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang rutin dilakukan meskipun sedikit”. (Hadits Shahih, Riwayat Bukhori dan Muslim, Lihat Shahiihul
jaami’ no. 163).
Diperlukan Istiqomah untuk muraja’ah.
Salah satu kebutuhan pondok pesantren adalah pengajar. Sebagus apapun gedungnya, jika SDM pengajarnya rendah maka santri tidak akan mendapatkan ilmu yang maksimal. Sebab ustadzlah yang mengajar santri, bukan Gedung.
Ustadzlah yang mendidik santri, bukan bangunan.
...
Sebaliknya sesederhana apa pun gedungnya, jika ustadz memiliki ilmu yang baik dan dengan niat tulus ikhlas, serta ditunjang dengan santri yang sungguh – sungguh serta benar niatnya dalam mencari ilmu akan didapatkan hasil
yang maksimal.
Semakin berkualitas seorang ustadz akan semakin banyak bermanfaat buat santri. Untuk itulah setiap Lembaga pendidikan harus menyiapkan ustadz yang berkualitas untuk memberikan yang terbaik buat santrinya. Maka program
terbesar pondok adalah menyiapkan sebanyak mungkin calon calon guru yang berkualitas.
Bahkan sebaik baiknya kurikulum direncanakan dan dibuat, pada akhirnya tergantung kepada guru (ustadz) yang mengimplemantasikan kurikulum. Sekian kali didisikusikan, sekian puluh kali diseminarkan, jika tidak menyiapkan
SDM yang akan menjalankan kurikulum tersebut, maka hasilnya tidak akan bisa sebagaimana yang diharapkan. Inilah peran penting guru (ustadz) dalam dunia pendidikan. Maka saat memilih lembaga Pendidikan, pertama kali
perhatikan dengan seksama tenaga pengajarnya.
Hari ini, Kamis, 27 Muharram 1444 H bertepatan dengan tanggal 25 Agustus 2022 M, salah seorang ustadz pengajar Pondok Pesantren Al Furqon Muhammadiyah Kota Batu yang bernama Ustadz Achmad Zakiyuddin Rabbany harus
meninggalkan pondok. Setelah setahun mendampingi santri belajar di pondok, tugas selanjutnya adalah meneruskan menuntut ilmu. Alhamdulillah Ustadz Achmad Zakiyuddin Rabbany tahun yang lalu telah diterima di LIPIA (Lembaga
Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab) di Jakarta. Saat ini akan memulai kuliah offline. Maka tidak ada pilihan lain kecuali harus ke Jakarta untuk menuntut ilmu. Terpaksa harus meninggalkan pondok yang tercinta. Menuju tempat
menimba ilmu, sebagaimana mudir Pondok Ustadz Rahmad Azhar S, LC yang alumni LIPIA Jakarta.
Harapan dari pihak pondok adalah semoga selama menempuh Pendidikan di LIPIA Jakarta, dimudahkan untuk mendapatkan ilmu semaksimal mungkin yang bermanfaat. Dan setelah selesai studi di LIPIA akan Kembali ke pondok lagi
untuk memberikan yang terbaik buat semua santri yang belajar di pondok.
Ustadz Achmad Zakiyuddin Rabbany, juga berpesan kepada semua santri untuk terus semangat belajar di pondok. Bersungguh – sungguh menuntut ilmu, menghafalkan al Quran selama di pondok. Tetap menjaga niat mencari ilmu karena
Allah. Semoga belajar di pondok menjadi catatan ibadah.
Kami dari pondok, berpesan kepada Ustadz Achmad Zakiyuddin Rabbany untuk selalu mendoakan kebaikan dan keberkahan buat semua santri dan semua ustadz di pondok. Semoga Ustadz Achmad Zakiyuddin Rabbany bisa mengkuti
kegiatakan kuliah di LIPIA dan segera selesai, dan segera kembali ke pondok lagi. Aaamiiin yaa Rabbal ‘alaamiiin.
Dengan Iman dan Akhlak saya menjadi kuat, tanpa Iman dan Akhlak saya menjadi lemah (Motto Tapak Suci)
...
Menyiapkan generasi muslim, harusnya berupaya semaksimal mungkin menyiapkan secara kaffah. Di samping menyiapkan tsaqafah (pengetahuan), ruhiyyah (keimanan) juga jasadiyyah (fisik) dan semua aspek kepribadian muslim
sehingga nantinya menjadi muslim kaffah.
Islam sebagai agama yang sempurna hanya bisa dijalankan oleh pribadi - pribadi istimewa. Islam sebagai agama yang besar hanya bisa diemban oleh manusia yang kokoh. Sebab
Islam mengatur semua aspek kehidupan manusia. Tidak hanya mengatur ibadah, bahkan urusan negara. Tidak ada persoalan pribadi bahkan persoalan kemasyarakatan.
Maka salah satu yang harus disiapkan untuk para
generasi di Lembaga Pendidikan adalah melatih fisik (jasadiyyah) agar memiliki kekuatan yang siap untuk melaksanakan beban agama dengan sebaik – baiknya. Sebagaimana Rasulullah mendidik dan melatih kaum muslimin dalam
semua aspek kehidupan, hingga kesiapan fisik. Salah satunya kaum muslimin mustahil menang dalam peperangan jika lemah secara fisik.
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ
Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah (HR. Muslim)
Sabda
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ini mengandung pesan agar setiap mukmin melatih dirinya agar memiliki kekuatan fisik. Sebab dengan kuat akan bisa menjalankan kewajiban lebih banyak dibandingkan yang fisiknya lemah.
Saat sehat dan kuat bisa berpuasa lebih mudah dibandingkan saat sakit. Ketika tubuh sehat dan kuat bisa menjalankan sholat malam lebih maksimal dibandingkan saat sakit. Dengan fisik yang sehat dan kuat bisa memberikan
pembelaan lebih besar dibandingkan dengan saat lemah dan sakit.
Allah memberikan tuntunan kepada kaum muslimin pentingnya mempersiapkan segala hal :
وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ
وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآَخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu
sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya.”
(QS. Al Anfal: 60).
Dalam Al Qur’an Allah menjelaskan salah satu kriterian seseorang diangkat menjadi pemimpin disamping ilmu adalah kekuatan fisik:
وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ ٱللَّهَ قَدْ
بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا ۚ قَالُوٓا۟ أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُ ٱلْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَحَقُّ بِٱلْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِّنَ ٱلْمَالِ ۚ قَالَ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصْطَفَىٰهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُۥ بَسْطَةً
فِى ٱلْعِلْمِ وَٱلْجِسْمِ ۖ وَٱللَّهُ يُؤْتِى مُلْكَهُۥ مَن يَشَآءُ ۚ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ
Nabi mereka mengatakan kepada mereka: "Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu". Mereka
menjawab: "Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?" Nabi (mereka) berkata: "Sesungguhnya Allah telah
memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa". Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.” (Al-Baqarah: 247)
Maka
Islam ini hanya akan bisa jaya, jika pemuda Islam juga dilatih fisiknya agar kuat. Ditempa tubuhnya agar sehat. Dilatih tubuhnya agar kokoh. Kekuatan fisik yang ditopang oleh iman yang kokoh. Kekuatan tubuh yang didukung
oleh akhlak yang mulia. Ketegaran jasad yang ditopang oleh ibadah yang benar. Sehingga saat datang amanah berjuang akan siap siaga menerima amanah.
Motivasi adalah faktor penting untuk proses pembelajaran. Sebab dengan motivasi yang benar dan kuat akan meningkatkan ghirroh belajar santri. Sebaliknya tanpa motivasi, sulit mendapatkan hasil belajar yang maksimal.
...
Salah satu momentum itu di dapatkan santri Pondok Pesantren Al Furqon Muhammadiyah Kota Batu, saat mendapatkan kehormatan dengan kedatangan tamu istimewa Syekh Hasyim dari Saudi Arabia, tepatnya dari Makkah. Beliau
berkenan berkunjung pada hari Kamis, 20 Muharram 1444 H bertepatan dengan tanggal 19 Agustus 2022.
Pada kesempatan kehadiran Syekh Hasyim, beliau tidak sekedar hadir berkunjung ke Pondok Pesantren Al Furqon
Muhammadiyah Kota Batu, namun juga dengan senang hati memberikan tausyiyah (nasehat) kepada santri. Inilah salah satu hal yang dibutuhkan oleh santri saat belajar di Pondok. Saat Syekh Hasyim menyampaikan nasehat kepada
santri menggunakan Bahasa Arab di damping oleh Mudir Pondok Ustadz Rahmad Azhar S, LC sebagai penterjemah.
Beberapa hal yang beliau sampaikan di antaranya, hendaknya santri selalu bersyukur dengan mendapatkan
kesempatan belajar di pondok. Sebab sebagian remaja / pemuda yang lain belajar di luar pondok. Bersyukur kepada Allah karena disaat banyak remaja / pemuda sibuk dengan HP, tetapi para santri dijauhkan dari HP dan Allah
sibukkan dengan Al Qur’an. Inilah nikmat agung yang diberikan kepada beberapa orang khusus dan tidak diberikan kepada semua manusia.
Begitu pula, hendaknya santri selalu membersihkan hati dengan membersihkan
niat belajar karena Allah. Sebaliknya menghindarkan diri dari niat belajar agama terutama belajar menghafalkan al Qur’an untuk tujuan dunia. Sebagaimana Allah memerintahkan kepada setiap mukmin untuk beribadah karena
Allah. Bahwa seseorang saat belajar agama dan diniatkan karena Allah, diniatkan untuk mendapatkan kebahagiaan akhirat, maka dunia akan didapatkan. Sebaliknya jika hanya berniat dunia, maka akhirat tidak akan didapatkan.
Setiap
penuntut ilmu juga tidak boleh ada rasa sombong atau takabbur. Tidak boleh merasa hebat dengan hafalannya yang banyak dibandingkan dengan santri yang lain. Sebab sombong itu salah satu sifat buruk yang harus dihindari
penuntut ilmu. Sebaliknya bagi santri harus merasa iri dengan hafalan santri yang lain yang lebih baik darinya. Untuk selalu berlomba lomba dalam kebaikan dengan tetap meluruskan nikat karena Allah.
Bekal
berikutnya adalah bekal kesungguhan dalam mencari ilmu. Tidak ada kesusksesan tanpa kesungguhan. Termasuk dalam hal ini mewajibakan kepada setiap penuntut ilmu untuk bersabar dalam menuntut ilmu. Kuat menahan kelelahan
saat belajar. Sebagaimana nasehat emas Imam As Syafii : “Barang Siapa Tidak Mampu Menahan Lelahnya Belajar, Maka ia harus bersiap menahannya perihnya kebodohan.” Juga dalam mahfudzat Bahasa arab ditegaskan : “Man Jadda Wa
Jada (Barang siapa Bersungguh Sungguh Pasti Dia Akan Berhasil).”
Tidak boleh pula dilupakan untuk setiap santri selalu berupaya mengistiqomahkan sholat malam. Secara khusus bagi penuntut ilmu al Qur’an atau
penghafal Al Qur’an sholat malam adalah salah satu penjaga terkuat agar hafalannya tetap melekat dalam jiwa.
Untuk mendapatkan keberkahan yang lebih sempurna, seorang penuntut ilmu, khususnya penghafal al
Qur’an juga harus memperbanyak doa kepada Allah, agar diberikan ilmu yang bermanfaat dan dimudahkan untuk menghafalkan Al Qur’an.
Setelah santri selesai belajar lalu berhasil menjadi seorang alim atau menjadi
hafidzul Qur’an, maka harus berupaya untuk mengamalkan ilmu yang didapatkan. Sebab seorang muslim tidak cukup dengan baik buat dirinya, tapi juga harus berupaya untuk mengajak orang lain agar menjadi baik seperti dirinya.
Dan harus selalu diingat santri adalah untuk selalu mendoakan orang tuanya yang telah mendidiknya atau menyekolahkannya, mendoakan ustadz yang mengajarkannya ilmu agama, mendoakan kaum muslimin yang mendukung
pondok pesantren dengan berbagai bentuk kontribusinya serta mendoakan semua kamu muslimin.
Terakhir Syekh Hasyim memimpin doa Bersama dan mendoakan semua santri dan seluruh ustadz, semua pendukung pondok
pesantren serta kaum muslimin agar mendapatkan keberkahan dan doa doa kebaikan dunia akhirat.
Acara yang dimulai pukul 16:30 diakhiri dengan sholat berjamaah maghrib serta makan Bersama syekh Hasyim.
Semoga
kedatangan Syekh Hasyim menjadi keberkahan buat semua santri dan semua sivitas pondok pesantren Al Furqon Kota Batu
Muhammad Ismail Akbar
Thoriq Ibrahim Amhar
Investasi Akhirat
Pembangunan Pondok Pesantren Penghafal Al-Qur'an.
Investasi Akhirat
Pembangunan Pondok Pesantren Penghafal Al-Qur'an.
Investasi Akhirat
Pembangunan Pondok Pesantren Penghafal Al-Qur'an.
Pendaftaran Santri Baru
Pendaftaran Santri Baru, Khusus Putra Usia SMP, Angkatan Ke-2 Tahun Ajaran 2022-2023.
Pendaftaran Santri Baru
Pendaftaran Santri Baru, Khusus Putra Usia SMP, Angkatan Ke-2 Tahun Ajaran 2022-2023.
Pimpinan Pusat Muhammadiyah
Tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadan, Syawal, dan Zulhijah 1443 H.
Download
Pengecoran Pondok Pesantren
Insyallah Dilaksanakan Pada 16 Maret 2022.